Hati Nurani

Allah SWT tidak menciptakan dua hati bagi manusia. Istilah hati mendua hanyalah wujud dari keragu-raguan dalam bertindak. Hakikat hati dalam Islam adalah qalbu yang bermakna jantung. Qalbu atau jantung, karena berbentuk segumpal daging, disebut juga dengan mudhgah. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim mengemukakan bahwa jika ia (hati) baik, maka seluruh tubuh menjadi baik pula. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh.

Hati yang baik disebut qalbun salim, selalu mendapat petunjuk dari Allah dan dibimbing untuk berperilaku yang terpuji. Karena itu, ia disebut hati nurani (hati yang bercahaya). Sedangkan hati yang tidak baik disebut qalbu ghairu salim/, dimurkai oleh Allah dan disebut dengan hati zhulmani (hati yang gelap/zalim). Jadi, jika kita hanya punya satu hati, maka tidak mungkin separuhnya nurani dan separuhnya lagi zhulmani.

Nurani berasal dari kata nur yang berarti cahaya atau petunjuk. Dalam Alquran tidak ditemukan kata jamaknya (dalam bentuk anwar), sebagaimana kata al-huda (petunjuk) dan al-birru (kebaikan). Karena itu, cahaya atau petunjuk itu hanya satu dan sumbernya pun dari Yang Satu pula. Dalam hal ini Allah SWT berfirman, ”Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk berislam, maka ia memperoleh nur petunjuk dari Tuhannya.” (Az-Zumar: 22). Demikian juga pada ayat lain, ”Allah membimbing melalui nur-Nya terhadap siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (An-Nur: 35).

Hati nurani selalu terbuka menerima dan menyampaikan kebenaran. Ia membimbing mulut untuk selalu berkata benar, mata untuk melihat yang baik, telinga untuk mendengar yang bermanfaat. Bahkan, ketika mendengar suatu ucapan, maka ia pilih yang terbaiknya (Az-Zumar: 18). Rasulullah SAW bersabda, ”Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang benar. Kalau tidak bisa, sebaiknya diam.” (HR Muslim). Bak kata pepatah ”diam itu emas, bicara itu perak”. Yang punya nurani, bila bertemu yang mungkar, termotivasi untuk mengubahnya, baik dengan kekuatan, nasihat, ataupun berpaling dari kemungkaran itu. (HR Bukhari dan Muslim).

Manusia yang memiliki hati nurani sangat rindu untuk selalu dekat dengan Allah. Kerinduan itu pun disambut oleh Allah dengan firman-Nya, ”Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu denagn kepuasan dan ridha, maka bergabunglah dengan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Al-Fajr: 27-30). Kebalikan dari hati nurani adalah hati zhulmani yang berarti gelap atau zalim. Gelap dari petunjuk dan menutup diri dari kebenaran. Cenderung kepada disharmonisasi, merusak silaturahim, egois, suka membuat teror dan provokasi.

Orang yang berhati zhulmani biasanya berjiwa SMOS (Suka Melihat Orang Susah, atau Susah Melihat Orang Senang). Jika suatu kebenaran merugikan dirinya, ia tutup-tutupi. Mempermainkan kata-kata adalah wujud dari kezaliman hati. Gambaran bagi yang punya hati zhulmani adalah lebih sesat dari binatang. (Al-A’raf: 179). Na’udzubillah.

Rabu, 13 Juli 2005 (Yaswirman )

Leave a Reply